The Challanges of Next-Generation Leadership in a Dynamic Digital Industry

The Challanges of Next-Generation Leadership in a Dynamic Digital Industry

CEO Words
Senin, 12 Desember 2016

Sahabat sekaligus mentor Saya, Mbak Fitri Ridhaningati, menghubungi Saya via WA. Srikandi dari Human Capital Management Telkomsel ini mengajak Saya berdiskusi tentang sebuah topik : apa tangangan para leader di tengah dunia industri digital yang terus bergerak secara dinamis.

Agar diskusi kami dapat bermanfaat bagi khalayak banyak, alangkah baiknya Saya tuliskan berbagai fikiran Saya pada tulisan kali ini.

*****

Perkembangan teknologi komunikasi merubah cara manusia dalam berkomunikasi satu dengan yang lain. Secara otomatis, hal itu mendorong perubahan pada pola tingkah laku manusia di pasar.

Komunikasi yang semakin cepat juga mendorong pasar untuk terus menuntut kecepatan pada layanan bisnis. Yang dulu harus datang ke toko, sekarang market memilih untuk mengakses informasi stok secara online terlebih dahulu. Yang dahulu harus melakukan perbandingan harga dari satu toko ke toko lain, sekarang cukup membandingkannya di laman marketplace.

Tuntutan pasar terhadap bisnis akhirnya mendorong organisasi untuk terus beradaptasi pada perkembangan digital ini. Terlalu banyak tantangan organisasi yang harus dijawab untuk merespon perubahan ini.

Apalagi perusahaan digital. Bisnis model digital yang ada harus terus dikonfrontasi dengan perubahan yang hadir. Kelincahan dan kecepatan gerak menjadi isu penting. Dan tidak lupa, komposisi digital native (anak biologis era digital) yang mendominasi organisasi, menjadi tantangan tersendiri.

Kata kunci perusahaan digital menjadi sangat sederhana : lincah, cepat, dan memaksimalkan peran GEN Y.

Berikut beberapa tantangan kepemimpinan yang dihadapi oleh industri digital yang sangat dinamis.

1. Flat Leadership Era

Kita tidak memungkiri bahwa organisasi bisnis hari ini diisi oleh anak-anak muda yang lahir sebagai digital native. Komposisi GEN Y ini memenuhi ruang middle management kebawah, dan menjadi motor eksekusi organisasi.

GEN Y adalah lapisan generasi yang cenderung kritis dan selalu menghadirkan ide. Mereka bukan generasi yang dengan mudah menerima intruksi. Setiap perintah selalu mereka cari latar belakangnya, mengapa mereka harus melakukannya, untuk apa dikerjakan, dan seterusnya.

Karakter ini terbentuk karena era informasi yang sangat terbuka dan alam demokrasi Indonesia yang mendukung lahirnya berbagai ide. Berbeda dengan generasi sebelumnya yang “terlihat” pasrah dengan keadaan/keputusan yang ada, GEN Y Indonesia sangat terdorong untuk lebih terbuka dan kritis tentang berbagai ide.

Bagi mereka, tidak ada ide yang tidak bisa dilawan, dan tidak ada ide juga yang tak dapat diperjuangkan. Semua bisa jadi pemimpin, semua bisa jadi motor, setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk bertumbuh.

Karakter ini akhirnya menuntut gerak organisasi yang FLAT. Flat atau datar adalah gaya kepemimpinan yang tak berjarak dan tak berkasta. Setiap orang dipersilakan untuk menghadirkan ide. Organisasi harus menjadi ruang yang aman untuk mengekspresikan fikiran.

Hanya dengan budaya Flat Leadership, setiap orang didalam organisasi mampu mengutarakan idenya. Hanya dengan budaya inilah, setiap potensi ide akan hadir ke dalam organisasi. Inilah yang membuat organisasi dapat bergerak cepat, lincah dan bertenaga.

Bagaimana mungkin organisasi bisa sedemikian lincah, jika ide-ide segar hanya hadir dari top manajemen. Ribuan orang didalam organisasi hanya menjadi zombie yang menunggu perintah. Disinilah awal mula kematian sebuah organisasi. Terutama dalam menghadapi era digital.

2. Simplicity

Pertumbuhan digital yang pesat tentu menghadirkan banyak kesederhanaan. Yang dahulu menulis surat, sekarang cukup email. Yang dulu harus menelpon, sekarang cukup text messaging via WhatsApp atau FB Messenger. Yang dahulu pake FlashDisk, sekarang cukup diletakkan ke dropbox. Yang dahulu telepon kabel, sekarang memakai nirkabel.

Cara hidup yang makin sederhana ini membentuk sikap GEN Y yang juga mencintai simplicity. GEN Y adalah sosok yang sangat mencintai “kesimpelan” daripada “kerumitan”. Mereka senang bekerja cepat, instan, dan gak mau ribet.

Yang celakanya, banyak organisasi bisnis yang masih mencintai kerumitan. Makin rumit, makin bergairah. Seakan-akan kerumitan adalah lambang dari kecerdasan. Padahal sebaliknya.

Hari ini, Saya masih menemukan organisasi yang lambat dalam mengambil keputusan akibat kerumitan birokrasi. Ide-ide segar yang muncul di ranah bawah harus kemudian dibahas berminggu-minggu sampai top manajemen. Pasar sudah keburu diambil orang lain. “Tetangga” sudah lebih dahulu melesat gak karuan, sementara dia masih sibuk dari meeting ke meeting. Dan tidak memutuskan apa-apa.

Di KeKe Busana, Saya selalu memancang Budaya “Make it Simple”. Jangan dibuat rumit. Jika bisa dengan email, tidak perlu lembar printed. Jika bisa dibicarakan di forum WA, tidak perlu ada tatap muka. Jika sebuah ide bisa diputuskan hari ini, maka putuskan hari ini, sediakan source yang dibutuhkan, dan eksekusilah esok hari.

Gerak Organisasi harus lebih simple. Karena dengan begitulah gerak organisasi bisa lebih cepat. Dan langkah organisasi bisa lebih lincah.

3. Otoritas yang Memadai

Kita tidak bisa berharap agar organisasi bergerak lebih lincah, jika anggota tim tidak memiliki otoritas yang memadai. Banyak organisasi bisnis yang lamban bergerak akibat otoritas yang terbatas di jajaran tim nya. Banyak orang didalam organisasi tersebut yang akhirnya berdiam diri akibat banyaknya otoritas yang dikebiri.

Ketika otoritas tidak memadai, seorang anggota tim tidak akan berani mengambil keputusan. Mereka lebih baik menunggu wangsit dari atasan. Padahal pasar terus bergerak, perkembangan digital mendesak mereka untuk lebih lincah. Tetapi karena otoritas yang terbatas inilah, mereka akhirnya tidak mampu bergerak maksimal.

Kepemimpinan di masa depan haruslah menyediakan otoritas yang memadai bagi anggota timnya. Top Manajemen harus merumuskan otoritas yang proposional bagi orang-orang yang ada didalam manajemen tersebut. Hanya dengan begitu, organisasi bisa lincah bergerak. Dan dinamis menghdapi perubahan.

4. Mengantisipasi Perubahan Masa Depan

Digital Era selalu menghadirkan kejutan demi kejutan. Mengapa ada organisasi yang terkejut dengan perubahan? Karena mereka tidak mengantisipasi perubahan yang ada.

Tentu kita semua ingat tentang taksi online yang menggerus usaha taksi konvensional. Keterkejutan itu terjadi dikarenakan ketidakmampuan seorang pemimpin mengantisipasi masa depan.

Kepemimpinan organisasi hari ini, haruslah mampu membaca dan menangkap perubahan-perubahan yang akan terjadi. Setelah itu, sang leader harus membangun rencana untuk mengantisipasinya.

*****

Itu 4 hal yang sekiranya menjadi tantangan kepemimpinan organisasi industri digital. Semoga bermanfaat. Di fikiran Saya masih ada 3 poin lagi, tapi kalo Saya tulis semua, takut kepanjangan. Moga ada part 2 nya. Nunggu 10ribu share dulu. *maksa*

Rendy Saputra – CEO KeKe Busana
Pengajar Sekolah Bisnis duakodikartika.com

15391082_1873719602912282_8077254807342556669_n

Hong Kong with Rizal

Bismillah…

Inilah dia, Rizal Taufiq Fauzi yang telah mengajaku. Suatu hari dikelas rekayasa pondasi ia berbisik,”Ja, aku udah cerita belum ya? Jadi gini, aku tu menang lomba menulis penggunaan printer ku. Dan hadiahnya jalan-jalan ke Disneyland Hong Kong. Sebetulnya aku prioritas ngajak keluarga dulu. Tapi kalau pada ga bisa aku ajak kamu sama feri deh.”

Dengan cool aku menjawab,”Ok zal.. Insya Allah saya ma siap karena untuk berkas-berkas keberangkatan penerbangan International, saya sudah lengkap. Paling rizal cepetan saja buat Passport. Kalau buat di bandung itungannya 10 hari kerja.”

Itulah awal ceritanya mengapa akhirnya pekan lalu saya pergi ke Hong Kong… detail ceritanya Insya Allah ada di bagian yang lain.

AFF dan Bisnis Ku

Cimahi, 27 Desember 2010

5:06 am

Bismillahirahmanirrahim..

Inilah yang saya pelajari hari ini. Sebuah pembelajaran besar yang hadir tiada henti. Sebuah langkah kecil dalam pencapaian puncang kemenangan ekonomi dunia. Awalnya, ketika melihat potensi perdagangan saat final AFF, saya berfikir ini akan menjadi sebuah potensi perdagangan yang besar dan memang kenyataannya seperti itu. Untuk memperkuat ide ini, saya mengajak beberapa teman(3 orang lebih tepatnya) untuk mengembangkan ide ini. Idenya adalah membuat makanan cemilan untuk para penonton bareng final AFF. dan rencananya makanan yang kami persiapkan merupakan makanan yang benar-benar tidak biasa dan pada akhirnya kesimpulan kami adalah makanan tradisional dengan modifikasi.

Pemikiran kami dan hasil diskusi kami membawa kami kepada 5 jenis makanan. Combro isi ayam tempe pedas, misro special, onde original, onde cheesy(isi keju), dan onde chocolate(isi keju). Jujur, saya bilang, ini mkanan yang belum pernah ada di Indonesia dan layak sekali untuk dikembangkan.

Merek yang kami ciptakan bernama CATRA(Cemilan Tradisional Indonesia).

Ketika mendengar jenis makanan yang inovatif beserta nama yang eksentrik, keyakinan dalam diri saya terakumulasi sebagai penanggung jawab marketing dari tim CATRA ini.

Di otak saya bergulir berbagai asumsi mengenai jumlah barang, besarnya modal,  dan cara distribusi. Saya bilang sekali lagi saya BERASUMSI karena kami BELUM PERNAH membicarakan ini terutama jumlah barang dan besarnya modal. saya pikir ya paling jumlah produksinya sekitar 500 butir dengan modal 500 ribu rupiah.

waktupun terus mengalir, waktupun terus bergulir…..

Tibalah kami di H-1 marketing. di  pagi hari, saat itu saya sedang berada di daerah cibubur Jakarta timur, saya meng-sms kepada teteh-teteh penanggung jawab makanan. Saya bertanya,”the bagaimana tentang makanan? membuat makanan berapa banyak dan modal totalnya berapa? biar saya yang tnggung semua modalnya(dengan asumsi-asumsi diatas)?” kemudian the hana menjawab,”iya sebentar, sedang dihitung.” Saya pun menunggu dengan tenanggnya.

Tapi ketenangan tersebut akhirnya dipaksa berakhir diiringi dengan sebuah sms yang masuk dengan isi,”Reza, kata the dani total harga combro special 960.000, misro 360.000, onde biasa 400.000, onde keju 520.000, onde coklat 480.000. total 2.720.000.”

Jeng-jeng… bagaikan genderang perang yang datang menantang yang tanpa ragu dan bimbang menyerang. Sempat ragu dan keraguan itu aku nyatakan dengan membalas sms dengan tulisan,”itu masih mungkin direduksi ga the? soalnya it sangat mahal dan peluang terjualnya sangat rendah. harga produksinyaa tinggi.” dan the hana menjawab,”iya za, sudah terlanjur dibeli.” akhirnya dalam hati kukatakan,”bismillah, kewajiban saya berikhtiar, biar Allah yang menentukan hasil akhirnya.”

Kubuatlah berbagai rancangan-rancangan pemasaran untuk 3150 makanan atau setara dengan 630 paket(@isi 5). Rancangan dibuat dengan berbagai alternative dan berbagai targetan. Misalnya penjualan pagi di agen dengan target terjual 200 paket dengan  10 agen dan masing-masing agen menjual 20 paket. Kemudian siasanya dititipkan ke beberapa pusat jajanan, travel, dan rumah makan. Teoretis perencanaan ini sangat realistis, tapi ternyata ada beberapa hal yang tidak kupahami sehingga ini tidak berjalan dengan lancar(akan dijelaskan di bagian bawah).

Saat itu fisik saya masih di Jakarta, tapi pikiran saya sudah ada di Bandung berpikir teknis marketing keesokan harinya akan seperti apa. Saya mencari agen dan mendapatkan 9 agen… Alhamdulillah, so far is good. tapi dalam hati saya bilang kapasitas perdagangan sehari tidak akan  bisa di angka 3000.

Akhirnya masuk ke hari H marketing. para agen pun datang dan siap menjual. tapi ada sebuah kendala besar yaitu MAKANAN BELUM SELESAI DI PRODUKSI, padahal sudah sampai jam puncak penjualan dengan target car free day dago. Para agen pun menunggu hampir satu jam. hari itu agen yang siap 6 orang. kami pun datang ke tempat pengambilan makanan dan terjadilah sesuatu. Ternyata, makanan yang siap adalah 50%nya saja dan al hasil daya jual agen hanya 50% saja dari target. Hasil akhir penjualan sesi pertama adalah 52 paket atau 260 butir.

Sekarang masuk perencanaan marketing kedua. Objek:Ibu-ibu pas dan karisma. Target penjualan  500 Paket. teoretis perencanaan ini sangat baik tetapi sekali lagi masalah koordinasi menjadi tantangan yang perlu diperbaiki. Sebagai pj marketing, saya tidak mengontrol agen bagian ini karena dianggap beres oleh kelompok asrama putrid.nyata-nyatanya tidak berhasil samasekali. Bahkan tidak ada satu agenpun yang menjual. Dan tak satu produkpun terjual. Marketing tahap 2 masih belum berhasil.

Shalat dzuhur pun tiba, kami shalat dulu dan berharap marketing di tahap-tahap berikutnya dapat berjalan dengan baik. Marketig tahap ketiga dilaksanakan dengan penjuala ke toko-toko. Sekali lagi, akibat ketidak pahaman prosedur pemasaran, hasilnya adalah tidak bisanya masuk barang-barang kami.

Tapi yang menarik adalah saya merasa banyak mendapat pelajaran disini, dan yang pasti banyak kenalan. mulai dari manager sate shinta, bamboo café, bahkan sampai ada yang menawarkan kios gratis kepada kami. Ya saya piker kerugian perniagaan kali ini cukup terbayar dengan pengalaman besar.

Pada akhirnya perhitungannya adalah:

Modal                   2.650.000

pemasukan        1.602.500

deficit                   1.047.500

Alhamdulilah…..

Insya Allah You’ll Find Your Way

Bismillahirrahmanirrahim

Nagreg,

29 Desember 2010

Tibalah aku di hari perjuangan ini. Hari yang akan memberikan sebuah arti bagi setiap pribadi yang tak lagi takut mati karena sudah tahu hasil akhir yang sudah pasti. Hari yang setiap detail perubahan akan memberikan sebuah makna kehidupan. Di tengah keheningan perjalanan Bandung-Nagereg yang sudah kulalui beberpa kali pada hari ini. Entah mengapa tiba-tiba aku sedikit melamun membayangkan sesuatu. Bahwa tidak bermanfaatnya aku di muka bumi ini. Kata-kataku tidak pernah memberiinspirasi, perbuatanku tidak kunjung menghasilkan duplikasi, berbagai konsep-konsepku dan teoriku tak kunjung menjadi implementasi.

Sedih rasnya jika aku membayangkan betapa lemahnya diriku yang tidur cepat karena kelelahan semu. Sedih rasanya ketika betapa mudahnya emosiku muncul ketika ada sebuah kejadian tidak sesuai harapan yang muncul dihadapanku.

Tak sangka, tiba-tiba terngianglah dari speaker mobil…”Insha Allah, Insha Allah,Insha Allah, you’ll find your way…”

Sontak saja hatiku bergetar, air mataku hampir tercucur… dan akupun berpikir, benar bahwa aku adalah orang yang lemah. Tapi aku orang yang jauh lebih lemah jika merenungi dan menyedihi kelemahanku. Aku ingin menjadi orang yang kuat, maka yang akan aku lakukan adalah membayangkan apa yang akan datang dan berusaha keras mencapai semua tujuan.

Biarlah Allah yang menentukan hasilnya, kewajiban kita adalah menentukan tujan dan bekerja keras…

Insha Allah, I will find my way…

Insha Allah(Maher Zain)

Everytime you feel like you cannot go on
You feel so lost
That your so alone
All you is see is night
And darkness all around
You feel so helpless
You can’t see which way to go
Don’t despair and never loose hope
Cause Allah is always by your side

Insha Allah x3
Insya Allah you’ll find your way

Everytime you commit one more mistake
You feel you can’t repent
And that its way too late
Your’re so confused, wrong decisions you have made
Haunt your mind and your heart is full of shame

Don’t despair and never loose hope
Cause Allah is always by your side
Insha Allah x3
Insya Allah you’ll find your way
Insha Allah x3
Insya Allah you’ll find your way

Turn to Allah
He’s never far away
Put your trust in Him
Raise your hands and pray
OOO Ya Allah
Guide my steps don’t let me go astray
You’re the only one that showed me the way,
Showed me the way x2
Insyaallah x3
Insya Allah we’ll find the way

Video & Lyrics Information

Artist: Maher Zain
Album: Thank You Allah
Lyrics: Maher Zain & Bara Kherigi
Melody: Maher Zain
Arrangement: Maher Zain & Hamza Namira
Copyright: Awakening Records 2009

5 Cara Mencintai Pekerjaan

Start

5 Cara Mencintai Pekerjaan

1. Stop fokus pada uang, uang, dan uang.

Uang tidak akan pernah menjadi alasan yang cukup untuk mencintai pekerjaanmu. Tidak peduli berapa banyak yang kamu kantongi setiap gajian, akan selalu ada hal-hal yang ingin kamu lakukan atau barang yang ingin kamu beli seandainya punya lebih banyak uang. Jangan sampai kamu menjadi orang yang membenci hari-hari kerja dan hanya bahagia saat hari gajian, karena pastinya hari-harimu di kantor akan terasa luar biasa menyiksa.

Geser sedikit fokusmu untuk menemukan hal lain yang kamu sukai dari pekerjaanmu. Apa kamu suka rekan-rekan kerjamu? Kemungkinan menjadi pegawai terbaik bulan ini? Bertemu dengan banyak orang baru? Tugas-tugas baru yang selalu menantang dari bosmu? Ketika kamu menemukan fokus baru, hal ini akan memberimu kekuatan untuk menghadapi hari-hari sulit dan membuatmu tidak terpaku pada sisi menyebalkan dari pekerjaanmu.

 

2. Hindari gabut!

Normalnya, semua pasti ingin menyukai pekerjaannya masing-masing. Psikolog Mihaly Csikszentmihalyi menyatakan bahwa saat terbaik dalam kehidupan seseorang justru bukan saat-saat pasif atau santai, namun ketika seseorang menerjang batasnya untuk mencapai sesuatu yang sulit dan berarti. Ingat senangnya ketika kamu diterima bekerja setelah rangkaian pencarian dan wawancara yang mendebarkan?

Jika kamu bosan dengan pekerjaanmu, mungkin kamu sedang pasif, tidak aktif, atau magabut (makan gaji buta). Ubah cara berpikir dan pola kerjamu dari reaktif menjadi proaktif. Biasanya kamu proaktif saat mencari kerja, namun ketika sudah bekerja, kamu menjadi reaktif atas perintah bos. Mulailah jadi proaktif lagi, cari inisiatif baru, cara baru, tantangan baru, sehingga kamu tidak bosan sekaligus meningkatkan kinerjamu di kantor.

3. Kenali bakat dan keahlianmu, gunakan sebaik-baiknya dalam pekerjaan.

Menyukai pekerjaanmu membutuhkan gabungan antara keahlian dan hasil yang memuaskan dari apa yang kamu kerjakan. Pertama-tama, kamu harus mengetahui kelebihan dan keahlianmu, menghargai hal tersebut, dan mengetahui bagaimana cara menggunakannya dalam pekerjaan sehari-hari. Bagaimana caranya? Perhatikan saat-saat kamu merasa bersemangat dalam bekerja, kapan kamu merasa puas, atau kapan kamu merasa butuh bantuan saat segalanya terasa sulit.

Bakatmu tidak tercermin dari apa yang kamu kerjakan, namun dari bagaimana caramu mengerjakannya: bagaimana caramu berpikir, bagaimana caramu memecahkan masalah, dan bagaimana caramu mencerna informasi. Ketika kamu memukan rintangan dalam pekerjaan dan berhasil memecahkannya dengan keahlianmu, maka kamu akan merasa puas serta bahagia dengan hasil kerjamu.

4. Jangan ragu mengambil tantangan baru.

Tidak banyak terlibat di kantor adalah kebiasaan buruk yang sulit dihilangkan. Kurangnya keterlibatan bisa berarti kurangnya tantangan, sehingga kamu hanya sebatas mengerjakan apa yang diperintahkan saja tanpa mau memberikan kontribusi lebih banyak. Mulailah mengubah kebiasaan ini jika kamu ingin mendapat pengalaman dan tantangan di tempat kerja. Pasang mata dan telinga untuk mengetahui kesempatan baru, kemudian ajukan diri. Jangan khawatir jika kamu tidak terlalu familiar dengan tugas yang ditawarkan. Semangat justru terpacu saat kamu mencari cara untuk memecahkannya. Jika berhasil, tentu kamu akan merasa sangat puas.

5. Ubah hal-hal yang berada dalam kendalimu.

Ubah sikapmu sendiri! Tersenyumlah, berterima kasih pada orang lain, jangan biarkan orang-orang menyebalkan menyulut emosimu, dan perbanyak tertawa. Kamu juga bisa membaca hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaanmu untuk mendapatkan inspirasi lebih banyak tentang apa yang kamu lakukan. Jangan malas juga untuk merapikan dan mendekorasi mejamu agar suasana tetap mendukung. Semakin kamu mengubah sikapmu menjadi lebih positif, kamu akan makin bahagia dan antusias menghadapi pekerjaanmu.

 

Ingat bahwa tidak ada suasana kantor yang sempurna. Ada kalanya kamu merasa bosan dengan rutinitas dan menjadi kesal sendiri. Apakah kamu telah mencoba melakukan hal-hal di atas, namun masih selalu merasa kepingin marah-marah setiap bangun tidur? Mungkin berarti pekerjaanmu memang tidak tepat. Saatnya mulai merapikan resume dan mencari pekerjaan baru. Kamu tahuharus mulai dari mana kan?

Dari :http://id.jobsdb.com/id-id/articles/5-cara-mencintai-pekerjaanmu