Bijak Memilih Sekolah

BIJAK MEMILIH SEKOLAH
By Yuria Pratiwhi Cleopatra

Bulan Juli identik dengan sekolah. Mulai dari urusan perlengkapan back to school, daftar ulang, dana sampai yang paling dasar : mau menyekolahkan anak dimana? Semakin banyak pilihan semakin galau. Sekolah negeri? Sekolah Islam terpadu? Sekolah Internasional? Sekolah swasta di kampung? Boarding school? Pesantren? Sekolah Montessori? Homeschooling? Atau ga usah sekolah sama sekali? Pusiiiinggg…

Banyak ibu bingung mau menyekolahkan anak dimana. Lebih bingung lagi saat sang ayah sebagai pemimpin keluarga justru tak mau ambil pusing. Menyerahkan pada sang ibu untuk memilih sekolah. Padahal ibu-ibu itu kalau memilih, pasti perasaan yang didahulukan. Survei bukannya dengan berkeliling supaya dapet ‘feel’nya, malah survei di grup medsos. Tak jarang berakhir saling bully dan memicu mom’s war.

Ibu menyekolahkan anak di boarding dibilang nggak sayang anak, berlepas diri dari pengasuhan dan tidak bertanggung jawab. Ibu menyekolahkan anak di sekolah negeri dibilang nggak menjaga lingkungan anak. Menjerumuskan anak. Disekolahkan di sekolah mahal dibilang not worth it. Buat apa mahal-mahal. Homeschooling dibilang masa depan suram. Apa jadinya anak kalau ga sekolah.

Intinya ya Bu, apapun pilihan kita, orang selalu bisa mencari celah untuk menyalahkan. Jadi ya santai aja. Ingat aja beberapa hal berikut saat memilih sekolah :

1. Memilih sekolah bukan memilih aqidah. Aqidah kita nggak batal kalau kita beda sekolah sama orang lain. Jadi ga usah terlalu ideologis, menganggap bahwa semua yang berbeda dengan kita berarti kurang berpasrah diri pada Allah. Beuh..berat ya. Tapi di medsos tercinta ini ada saja yang ekstrim seolah beda sekolah itu beda agama. Kita sih pertimbangannya moderat aja ya..😅.

2. Dana
Memilih sekolah HARUS sesuai dengan anggaran yang ada. Saya sering jelaskan bahwa anggaran pendidikan seluruh anggota keluarga itu berkisar 20% dari seluruh anggaran keluarga. Jadi jangan memaksakan diri memasukkan anak ke sekolah mahal. Yang harus kita paksakan justru berusaha agar anak tetap mendapatkan didikan ala sekolah mahal, tanpa harus keluar banyak biaya. Nah..paksakan diri kita untuk selalu belajar dan berinovasi 😊

3. Jarak
Sekolah tiap hari itu lelah, Jendral. Akan lebih lelah kalau jarak yang ditempuh terlalu jauh. Apalagi kalau usia anak masih kecil (tk/sd). Sayang waktu mereka habis di jalan. Apalagi di kota besar yang sering bertemu kemacetan, sangat rentan menimbulkan stres pada anak. Kalau harus banget ke sekolah tersebut, pindah rumah saja biar dekat

4. Metode/Tipe
Selalu sesuaikan dengan visi misi keluarga.

Untuk keluarga yang menjadikan kemandirian dan pemahaman agama sebagai pokok, sekolah boarding Islam bisa jadi pilihan.

Untuk keluarga dengan gagasan internasional yang kuat, bercita-cita ke luar negeri, sekolah bilingual atau internasional yang memiliki akses ke sekolah luar negeri bisa jadi pilihan.

Untuk keluarga yang ingin mengarahkan anak ke jalur syariah, sdit atau pesantren bisa jadi pilihan. Terutama sekolah yang memiliki akses ke sekolah di timur tengah.

Untuk keluarga yang tidak menjadikan akademis sebagai sasaran, lebih ke arah pengembangan minat bakat, homeschooling bisa jadi pilihan.

Untuk keluarga yang ingin anak menempuh jenjang akademis tinggi di dalam negeri, bisa masuk ptn, sekolah negeri bisa jadi pilihan.

Kebutuhan tiap anak dan keluarga berbeda-beda. Tidak perlu membandingkan keluarga kita dengan keluarga lain. Kagum boleh saja, tapi rasional lebih utama.

5. Survei langsung
Jangan memilih sekolah hanya karena brosur saja. Brosur itu hanya rangkaian huruf yang bisa dikarang sesuka hati oleh siapa saja. Wawancarai gurunya agar kita mengerti kepada siapa kita menitipkan anak. Lihat kondisi fisik bangunan sekolah, agar kita paham apakah bisa memenuhi kebutuhan anak-anak kita. Wawancarai muridnya agar kita tau apa pendapat mereka tentang sekolah tersebut.nRasakan langsung jalur perjalanan yang harus ditempuh anak, agar kita bisa membayangkan apakah akan melelahkan atau tidak.

6. Rapat keluarga
Setelah berbagai informasi didapat, bicarakan dalam rapat keluarga.
Jangan mau terima kalau suami menyerahkan pada ibu untuk memilih..nanti kalau ada apa-apa, ibu yang disalahkan..ehehe. Duduk yang serius, dan bicarakan dengan baik.

Pertimbangkan dengan matang, lalu putuskan bersama. Pastikan seluruh anggota keluarga, termasuk anak yang akan menjalani, menerima dan mendukung keputusan ini. Jadikan keluarga tim yang kompak untuk bahu membahu memberikan yang terbaik, bahkan walaupun keputusan hasil rapat tidak sesuai dengan keinginan pribadi.

Semoga kebarakahan menyertai keluarga yang senantiasa menjadikan syura sebagai dasar pengambilan keputusan, seperti yang diajarkan dalam al Qur’an dalam surat Asy Syuuraa.

7. Tidak ada sekolah yang sempurna.
Kita harus memilih. Tidak ada sekolah yang mampu memenuhi kebutuhan kita 100%. Termasuk homeschooling. Biarkan sekolah mengambil porsi sebanyak mereka mampu, dan sisanya, kita sebagai orangtua yang menyempurnakan. Baik oleh kita secara langsung ataupun melalui komunitas atau lembaga pendidikan non formal lainnya.

Semoga anak-anak kita memperoleh pendidikan terbaik. Karena pendidikan adalah KUNCI PERADABAN 😊

Disadur Dari Tulisan Teh Patra

They, Who Have Ever Been Part Of My Life

WhatsApp Image 2017-06-25 at 09.17.26

Dua puluh tujuh tahun sudah dilewati, artinya dua puluh tujuh tahun ramadhan sudah kami lewati. Tenang, kami bukan bang toyib yang tak pulang pulang. Setiap tahun kami selalu berkumpul dengan keluarga tanpa terkecuali. Dan dari 27 tahun pun,selalu ada perubahan yang datang. Baik kabar gembira dengan adanya anggota keluarga baru ataupun berita duka dengan tiadanya anggota keluarga.

Kita harus mensyukurinya, that’s life. Whatever you want, whatever you think, Allah already made the destiny. Tinggal kita lakukan apa yang terbaik yang bisa kita lakukan. Momen dari waktu ke waktu itu akhirnya membuat kita mengetahui bahwa sungguh banyak orang yang telah masuk ke dalam kehidupan kita. Mulai dari kita lahir, sekolah, dewasa, berkeluarga, semakin dewasa, hingga ajal kelak kan tiba, ratusan ribu orang menjadi bagian hidup kita. Kini tugas kita memaknai semuanya.

Benarlah sebuah kalimat,“Hidup sangat sederhana. Yang hebat-hebat hanya tafsiranya”
–Pramoedya anantatoer–

Juga, “Tugas kita bukan berhasil, tapi tugas kita adalah untuk mencoba, karena di dalam mencoba itu lah kita menemukan dan belajar membangun kesempatan untuk berhasil” –HAMKA–

The Challanges of Next-Generation Leadership in a Dynamic Digital Industry

The Challanges of Next-Generation Leadership in a Dynamic Digital Industry

CEO Words
Senin, 12 Desember 2016

Sahabat sekaligus mentor Saya, Mbak Fitri Ridhaningati, menghubungi Saya via WA. Srikandi dari Human Capital Management Telkomsel ini mengajak Saya berdiskusi tentang sebuah topik : apa tangangan para leader di tengah dunia industri digital yang terus bergerak secara dinamis.

Agar diskusi kami dapat bermanfaat bagi khalayak banyak, alangkah baiknya Saya tuliskan berbagai fikiran Saya pada tulisan kali ini.

*****

Perkembangan teknologi komunikasi merubah cara manusia dalam berkomunikasi satu dengan yang lain. Secara otomatis, hal itu mendorong perubahan pada pola tingkah laku manusia di pasar.

Komunikasi yang semakin cepat juga mendorong pasar untuk terus menuntut kecepatan pada layanan bisnis. Yang dulu harus datang ke toko, sekarang market memilih untuk mengakses informasi stok secara online terlebih dahulu. Yang dahulu harus melakukan perbandingan harga dari satu toko ke toko lain, sekarang cukup membandingkannya di laman marketplace.

Tuntutan pasar terhadap bisnis akhirnya mendorong organisasi untuk terus beradaptasi pada perkembangan digital ini. Terlalu banyak tantangan organisasi yang harus dijawab untuk merespon perubahan ini.

Apalagi perusahaan digital. Bisnis model digital yang ada harus terus dikonfrontasi dengan perubahan yang hadir. Kelincahan dan kecepatan gerak menjadi isu penting. Dan tidak lupa, komposisi digital native (anak biologis era digital) yang mendominasi organisasi, menjadi tantangan tersendiri.

Kata kunci perusahaan digital menjadi sangat sederhana : lincah, cepat, dan memaksimalkan peran GEN Y.

Berikut beberapa tantangan kepemimpinan yang dihadapi oleh industri digital yang sangat dinamis.

1. Flat Leadership Era

Kita tidak memungkiri bahwa organisasi bisnis hari ini diisi oleh anak-anak muda yang lahir sebagai digital native. Komposisi GEN Y ini memenuhi ruang middle management kebawah, dan menjadi motor eksekusi organisasi.

GEN Y adalah lapisan generasi yang cenderung kritis dan selalu menghadirkan ide. Mereka bukan generasi yang dengan mudah menerima intruksi. Setiap perintah selalu mereka cari latar belakangnya, mengapa mereka harus melakukannya, untuk apa dikerjakan, dan seterusnya.

Karakter ini terbentuk karena era informasi yang sangat terbuka dan alam demokrasi Indonesia yang mendukung lahirnya berbagai ide. Berbeda dengan generasi sebelumnya yang “terlihat” pasrah dengan keadaan/keputusan yang ada, GEN Y Indonesia sangat terdorong untuk lebih terbuka dan kritis tentang berbagai ide.

Bagi mereka, tidak ada ide yang tidak bisa dilawan, dan tidak ada ide juga yang tak dapat diperjuangkan. Semua bisa jadi pemimpin, semua bisa jadi motor, setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk bertumbuh.

Karakter ini akhirnya menuntut gerak organisasi yang FLAT. Flat atau datar adalah gaya kepemimpinan yang tak berjarak dan tak berkasta. Setiap orang dipersilakan untuk menghadirkan ide. Organisasi harus menjadi ruang yang aman untuk mengekspresikan fikiran.

Hanya dengan budaya Flat Leadership, setiap orang didalam organisasi mampu mengutarakan idenya. Hanya dengan budaya inilah, setiap potensi ide akan hadir ke dalam organisasi. Inilah yang membuat organisasi dapat bergerak cepat, lincah dan bertenaga.

Bagaimana mungkin organisasi bisa sedemikian lincah, jika ide-ide segar hanya hadir dari top manajemen. Ribuan orang didalam organisasi hanya menjadi zombie yang menunggu perintah. Disinilah awal mula kematian sebuah organisasi. Terutama dalam menghadapi era digital.

2. Simplicity

Pertumbuhan digital yang pesat tentu menghadirkan banyak kesederhanaan. Yang dahulu menulis surat, sekarang cukup email. Yang dulu harus menelpon, sekarang cukup text messaging via WhatsApp atau FB Messenger. Yang dahulu pake FlashDisk, sekarang cukup diletakkan ke dropbox. Yang dahulu telepon kabel, sekarang memakai nirkabel.

Cara hidup yang makin sederhana ini membentuk sikap GEN Y yang juga mencintai simplicity. GEN Y adalah sosok yang sangat mencintai “kesimpelan” daripada “kerumitan”. Mereka senang bekerja cepat, instan, dan gak mau ribet.

Yang celakanya, banyak organisasi bisnis yang masih mencintai kerumitan. Makin rumit, makin bergairah. Seakan-akan kerumitan adalah lambang dari kecerdasan. Padahal sebaliknya.

Hari ini, Saya masih menemukan organisasi yang lambat dalam mengambil keputusan akibat kerumitan birokrasi. Ide-ide segar yang muncul di ranah bawah harus kemudian dibahas berminggu-minggu sampai top manajemen. Pasar sudah keburu diambil orang lain. “Tetangga” sudah lebih dahulu melesat gak karuan, sementara dia masih sibuk dari meeting ke meeting. Dan tidak memutuskan apa-apa.

Di KeKe Busana, Saya selalu memancang Budaya “Make it Simple”. Jangan dibuat rumit. Jika bisa dengan email, tidak perlu lembar printed. Jika bisa dibicarakan di forum WA, tidak perlu ada tatap muka. Jika sebuah ide bisa diputuskan hari ini, maka putuskan hari ini, sediakan source yang dibutuhkan, dan eksekusilah esok hari.

Gerak Organisasi harus lebih simple. Karena dengan begitulah gerak organisasi bisa lebih cepat. Dan langkah organisasi bisa lebih lincah.

3. Otoritas yang Memadai

Kita tidak bisa berharap agar organisasi bergerak lebih lincah, jika anggota tim tidak memiliki otoritas yang memadai. Banyak organisasi bisnis yang lamban bergerak akibat otoritas yang terbatas di jajaran tim nya. Banyak orang didalam organisasi tersebut yang akhirnya berdiam diri akibat banyaknya otoritas yang dikebiri.

Ketika otoritas tidak memadai, seorang anggota tim tidak akan berani mengambil keputusan. Mereka lebih baik menunggu wangsit dari atasan. Padahal pasar terus bergerak, perkembangan digital mendesak mereka untuk lebih lincah. Tetapi karena otoritas yang terbatas inilah, mereka akhirnya tidak mampu bergerak maksimal.

Kepemimpinan di masa depan haruslah menyediakan otoritas yang memadai bagi anggota timnya. Top Manajemen harus merumuskan otoritas yang proposional bagi orang-orang yang ada didalam manajemen tersebut. Hanya dengan begitu, organisasi bisa lincah bergerak. Dan dinamis menghdapi perubahan.

4. Mengantisipasi Perubahan Masa Depan

Digital Era selalu menghadirkan kejutan demi kejutan. Mengapa ada organisasi yang terkejut dengan perubahan? Karena mereka tidak mengantisipasi perubahan yang ada.

Tentu kita semua ingat tentang taksi online yang menggerus usaha taksi konvensional. Keterkejutan itu terjadi dikarenakan ketidakmampuan seorang pemimpin mengantisipasi masa depan.

Kepemimpinan organisasi hari ini, haruslah mampu membaca dan menangkap perubahan-perubahan yang akan terjadi. Setelah itu, sang leader harus membangun rencana untuk mengantisipasinya.

*****

Itu 4 hal yang sekiranya menjadi tantangan kepemimpinan organisasi industri digital. Semoga bermanfaat. Di fikiran Saya masih ada 3 poin lagi, tapi kalo Saya tulis semua, takut kepanjangan. Moga ada part 2 nya. Nunggu 10ribu share dulu. *maksa*

Rendy Saputra – CEO KeKe Busana
Pengajar Sekolah Bisnis duakodikartika.com

15391082_1873719602912282_8077254807342556669_n

Hong Kong with Rizal

Bismillah…

Inilah dia, Rizal Taufiq Fauzi yang telah mengajaku. Suatu hari dikelas rekayasa pondasi ia berbisik,”Ja, aku udah cerita belum ya? Jadi gini, aku tu menang lomba menulis penggunaan printer ku. Dan hadiahnya jalan-jalan ke Disneyland Hong Kong. Sebetulnya aku prioritas ngajak keluarga dulu. Tapi kalau pada ga bisa aku ajak kamu sama feri deh.”

Dengan cool aku menjawab,”Ok zal.. Insya Allah saya ma siap karena untuk berkas-berkas keberangkatan penerbangan International, saya sudah lengkap. Paling rizal cepetan saja buat Passport. Kalau buat di bandung itungannya 10 hari kerja.”

Itulah awal ceritanya mengapa akhirnya pekan lalu saya pergi ke Hong Kong… detail ceritanya Insya Allah ada di bagian yang lain.

AFF dan Bisnis Ku

Cimahi, 27 Desember 2010

5:06 am

Bismillahirahmanirrahim..

Inilah yang saya pelajari hari ini. Sebuah pembelajaran besar yang hadir tiada henti. Sebuah langkah kecil dalam pencapaian puncang kemenangan ekonomi dunia. Awalnya, ketika melihat potensi perdagangan saat final AFF, saya berfikir ini akan menjadi sebuah potensi perdagangan yang besar dan memang kenyataannya seperti itu. Untuk memperkuat ide ini, saya mengajak beberapa teman(3 orang lebih tepatnya) untuk mengembangkan ide ini. Idenya adalah membuat makanan cemilan untuk para penonton bareng final AFF. dan rencananya makanan yang kami persiapkan merupakan makanan yang benar-benar tidak biasa dan pada akhirnya kesimpulan kami adalah makanan tradisional dengan modifikasi.

Pemikiran kami dan hasil diskusi kami membawa kami kepada 5 jenis makanan. Combro isi ayam tempe pedas, misro special, onde original, onde cheesy(isi keju), dan onde chocolate(isi keju). Jujur, saya bilang, ini mkanan yang belum pernah ada di Indonesia dan layak sekali untuk dikembangkan.

Merek yang kami ciptakan bernama CATRA(Cemilan Tradisional Indonesia).

Ketika mendengar jenis makanan yang inovatif beserta nama yang eksentrik, keyakinan dalam diri saya terakumulasi sebagai penanggung jawab marketing dari tim CATRA ini.

Di otak saya bergulir berbagai asumsi mengenai jumlah barang, besarnya modal,  dan cara distribusi. Saya bilang sekali lagi saya BERASUMSI karena kami BELUM PERNAH membicarakan ini terutama jumlah barang dan besarnya modal. saya pikir ya paling jumlah produksinya sekitar 500 butir dengan modal 500 ribu rupiah.

waktupun terus mengalir, waktupun terus bergulir…..

Tibalah kami di H-1 marketing. di  pagi hari, saat itu saya sedang berada di daerah cibubur Jakarta timur, saya meng-sms kepada teteh-teteh penanggung jawab makanan. Saya bertanya,”the bagaimana tentang makanan? membuat makanan berapa banyak dan modal totalnya berapa? biar saya yang tnggung semua modalnya(dengan asumsi-asumsi diatas)?” kemudian the hana menjawab,”iya sebentar, sedang dihitung.” Saya pun menunggu dengan tenanggnya.

Tapi ketenangan tersebut akhirnya dipaksa berakhir diiringi dengan sebuah sms yang masuk dengan isi,”Reza, kata the dani total harga combro special 960.000, misro 360.000, onde biasa 400.000, onde keju 520.000, onde coklat 480.000. total 2.720.000.”

Jeng-jeng… bagaikan genderang perang yang datang menantang yang tanpa ragu dan bimbang menyerang. Sempat ragu dan keraguan itu aku nyatakan dengan membalas sms dengan tulisan,”itu masih mungkin direduksi ga the? soalnya it sangat mahal dan peluang terjualnya sangat rendah. harga produksinyaa tinggi.” dan the hana menjawab,”iya za, sudah terlanjur dibeli.” akhirnya dalam hati kukatakan,”bismillah, kewajiban saya berikhtiar, biar Allah yang menentukan hasil akhirnya.”

Kubuatlah berbagai rancangan-rancangan pemasaran untuk 3150 makanan atau setara dengan 630 paket(@isi 5). Rancangan dibuat dengan berbagai alternative dan berbagai targetan. Misalnya penjualan pagi di agen dengan target terjual 200 paket dengan  10 agen dan masing-masing agen menjual 20 paket. Kemudian siasanya dititipkan ke beberapa pusat jajanan, travel, dan rumah makan. Teoretis perencanaan ini sangat realistis, tapi ternyata ada beberapa hal yang tidak kupahami sehingga ini tidak berjalan dengan lancar(akan dijelaskan di bagian bawah).

Saat itu fisik saya masih di Jakarta, tapi pikiran saya sudah ada di Bandung berpikir teknis marketing keesokan harinya akan seperti apa. Saya mencari agen dan mendapatkan 9 agen… Alhamdulillah, so far is good. tapi dalam hati saya bilang kapasitas perdagangan sehari tidak akan  bisa di angka 3000.

Akhirnya masuk ke hari H marketing. para agen pun datang dan siap menjual. tapi ada sebuah kendala besar yaitu MAKANAN BELUM SELESAI DI PRODUKSI, padahal sudah sampai jam puncak penjualan dengan target car free day dago. Para agen pun menunggu hampir satu jam. hari itu agen yang siap 6 orang. kami pun datang ke tempat pengambilan makanan dan terjadilah sesuatu. Ternyata, makanan yang siap adalah 50%nya saja dan al hasil daya jual agen hanya 50% saja dari target. Hasil akhir penjualan sesi pertama adalah 52 paket atau 260 butir.

Sekarang masuk perencanaan marketing kedua. Objek:Ibu-ibu pas dan karisma. Target penjualan  500 Paket. teoretis perencanaan ini sangat baik tetapi sekali lagi masalah koordinasi menjadi tantangan yang perlu diperbaiki. Sebagai pj marketing, saya tidak mengontrol agen bagian ini karena dianggap beres oleh kelompok asrama putrid.nyata-nyatanya tidak berhasil samasekali. Bahkan tidak ada satu agenpun yang menjual. Dan tak satu produkpun terjual. Marketing tahap 2 masih belum berhasil.

Shalat dzuhur pun tiba, kami shalat dulu dan berharap marketing di tahap-tahap berikutnya dapat berjalan dengan baik. Marketig tahap ketiga dilaksanakan dengan penjuala ke toko-toko. Sekali lagi, akibat ketidak pahaman prosedur pemasaran, hasilnya adalah tidak bisanya masuk barang-barang kami.

Tapi yang menarik adalah saya merasa banyak mendapat pelajaran disini, dan yang pasti banyak kenalan. mulai dari manager sate shinta, bamboo café, bahkan sampai ada yang menawarkan kios gratis kepada kami. Ya saya piker kerugian perniagaan kali ini cukup terbayar dengan pengalaman besar.

Pada akhirnya perhitungannya adalah:

Modal                   2.650.000

pemasukan        1.602.500

deficit                   1.047.500

Alhamdulilah…..

Insya Allah You’ll Find Your Way

Bismillahirrahmanirrahim

Nagreg,

29 Desember 2010

Tibalah aku di hari perjuangan ini. Hari yang akan memberikan sebuah arti bagi setiap pribadi yang tak lagi takut mati karena sudah tahu hasil akhir yang sudah pasti. Hari yang setiap detail perubahan akan memberikan sebuah makna kehidupan. Di tengah keheningan perjalanan Bandung-Nagereg yang sudah kulalui beberpa kali pada hari ini. Entah mengapa tiba-tiba aku sedikit melamun membayangkan sesuatu. Bahwa tidak bermanfaatnya aku di muka bumi ini. Kata-kataku tidak pernah memberiinspirasi, perbuatanku tidak kunjung menghasilkan duplikasi, berbagai konsep-konsepku dan teoriku tak kunjung menjadi implementasi.

Sedih rasnya jika aku membayangkan betapa lemahnya diriku yang tidur cepat karena kelelahan semu. Sedih rasanya ketika betapa mudahnya emosiku muncul ketika ada sebuah kejadian tidak sesuai harapan yang muncul dihadapanku.

Tak sangka, tiba-tiba terngianglah dari speaker mobil…”Insha Allah, Insha Allah,Insha Allah, you’ll find your way…”

Sontak saja hatiku bergetar, air mataku hampir tercucur… dan akupun berpikir, benar bahwa aku adalah orang yang lemah. Tapi aku orang yang jauh lebih lemah jika merenungi dan menyedihi kelemahanku. Aku ingin menjadi orang yang kuat, maka yang akan aku lakukan adalah membayangkan apa yang akan datang dan berusaha keras mencapai semua tujuan.

Biarlah Allah yang menentukan hasilnya, kewajiban kita adalah menentukan tujan dan bekerja keras…

Insha Allah, I will find my way…

Insha Allah(Maher Zain)

Everytime you feel like you cannot go on
You feel so lost
That your so alone
All you is see is night
And darkness all around
You feel so helpless
You can’t see which way to go
Don’t despair and never loose hope
Cause Allah is always by your side

Insha Allah x3
Insya Allah you’ll find your way

Everytime you commit one more mistake
You feel you can’t repent
And that its way too late
Your’re so confused, wrong decisions you have made
Haunt your mind and your heart is full of shame

Don’t despair and never loose hope
Cause Allah is always by your side
Insha Allah x3
Insya Allah you’ll find your way
Insha Allah x3
Insya Allah you’ll find your way

Turn to Allah
He’s never far away
Put your trust in Him
Raise your hands and pray
OOO Ya Allah
Guide my steps don’t let me go astray
You’re the only one that showed me the way,
Showed me the way x2
Insyaallah x3
Insya Allah we’ll find the way

Video & Lyrics Information

Artist: Maher Zain
Album: Thank You Allah
Lyrics: Maher Zain & Bara Kherigi
Melody: Maher Zain
Arrangement: Maher Zain & Hamza Namira
Copyright: Awakening Records 2009